<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/7618135?origin\x3dhttp://katakukita.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Tuesday, August 31, 2004
HIDUP SENDIRI TETAPI BUKAN HIDUP UNTUK DIRI SENDIRI ; 3:47 AM

APAKAH menjadi dewasa berarti harus menikah? Memang, menurut kisah penciptaannya, ketika Sang Khalik menciptakan manusia, Ia juga menciptakan lembaga pernikahan. Ia memungkinkan dan memberkati pernikahan. Namun, sebuah kemungkinan bukan merupakan keharusan dan tidak selalu harus digunakan. Misalnya, Sang Khalik memberi kemungkinan kepada kita untuk berenang. Apakah itu berarti kita semua harus cakap dan gemar berenang?

BANYAK orang melihat keadaan hidup membujang hanya dari segi negatifnya, misalnya rasa sepi atau ketidakpastian akan hari depan. Tetapi, sebetulnya dalam hidup berkeluarga pun rasa sepi dan ketidakpastian itu dapat terjadi.

JARANG orang melihat bahwa hidup membujang pun ada segi positifnya. Hidup membujang dapat berarti lebih banyak waktu, tidak terikat pada kewajiban-kewajiban sebagai anggota keluarga, lebih banyak kesempatan pengembangan diri untuk karier, profesi, penyerahan diri seutuhnya kepada Sang Khalik, dan pengabdian kepada masyarakat.

PAKAR psikologi perkembangan, Erik Erikson, mengatakan, salah satu ciri kedewasaan adalah sifat generativitas. Yang dimaksud bukanlah berproduksi secara biologis, melainkan mengembangkan mutu hidup bagi generasi selanjutnya. Orang yang membujang pun bersifat generatif. Sama seperti orang yang berkeluarga, orang yang membujang pun dapat mewariskan atau menyalurkan kecakapan, pengetahuan, dan nilai-nilai hidup kepada generasi selanjutnya. Bahkan, orang yang membujang mungkin dapat melakukan pewarisan itu dengan lebih ampuh dan dengan jangkauan yang lebih luas.

BEBERAPA pribadi di bawah ini dapat disebut sebagai contoh: Pascal, Jean d'Arc, Florence Nightingale, Erasmus, dan Mother Theresa. Siapa yang dapat menyangkal besarnya peranan mereka untuk umat manusia?

MEMANG kebanyakan orang dewasa menempuh kehidupan menikah. Tetapi, itu bukan berarti bahwa hidup membujang adalah penyimpangan. Sebagaimana masyarakat mempunyai ruang untuk mereka yang menempuh hidup menikah, demikian pula sebaliknya.

BAIK hidup menikah maupun membujang adalah hidup yang utuh, penuh, dan wajar. Karena itu, orang yang hidup membujang perlu mendapat perlakuan yang wajar. Mereka tidak perlu dikasihani, tetapi tidak perlu pula dikagumi. Mereka tidak usah ditanya mengapa mereka tidak menikah. Hidup membujang bukan tanda hina dan bukan pula tanda mulia. Arti hidup manusia bukan diukur dengan hal menikah atau tidak.

SEORANG karib pernah berkata, "Ada yang tidak dapat kawin karena ia memang terlahir demikian dari rahim ibunya, ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena imannya."


Capture
Anything and everything about you here.
bold italics and underline

Cold
Tagboard. Cbox recommended.

Sight
Link
Link
Link
Link
Link

Look Through
July 2004
August 2004
September 2004
February 2005
March 2005

Credits
x x x x x x